BOYOLALI, KONTRASNEW.com – H.Puspo Wardoyo, Owner PT Halalan Thayyiban (HATI) di musim haji tahun 2026 kali ini mengirimkan makanan siap saji, dengan merk MakanKu sebanyak 2, 3 juta Porsi makanan Ready to Eat (RTE ).
Sedangkan menu makanan yang dikirim itu semur, rendang, gulai dan opor. Puspo Wardoyo menciptakan inovasi makanan siap saji khas Indonesia untuk jamaah haji itu, hasil riset dua tahun guna mengatasi kendala distribusi dan keterbatasan dapur di Arafah serta Mina. Dengan menggunakan teknologi sterilisasi suhu tinggi 121°C, membuat makanan tahan hingga 18 bulan tanpa pengawet, tetap bercita rasa Indonesia, dan langsung bisa dikonsumsi tanpa pemanasan ulang.
Kepadatan jutaan jamaah saat puncak ibadah haji di Arafah dan Mina selama bertahun-tahun menjadi persoalan besar dalam distribusi konsumsi jamaah. Keterlambatan makanan, makanan basi akibat macetnya distribusi, hingga sulitnya membangun dapur umum di kawasan padat menjadi tantangan yang terus berulang. “ Berangkat dari persoalan itulah, kami mulai melakukan inovasi makanan Ready to Eat (RTE) atau makanan siap saji khas Indonesia yang kini menjadi salah satu solusi konsumsi jamaah haji Indonesia di Arab Saudi” tambahnya.
ide tersebut muncul dari pengalaman panjangnya mengelola rumah makan dan layanan katering Indonesia di Arab Saudi. Ia melihat langsung betapa kompleksnya penyediaan makanan bagi jutaan jamaah yang berkumpul dalam waktu bersamaan di area terbatas. “Puncak haji itu ada di Arafah dan Mina. Bisa dibayangkan dua juta orang berkumpul di tempat yang sempit. Transportasi macet, logistik susah masuk, dapur juga terbatas. Dulu sebelum ada Ready to Eat, makanan sering terlambat bahkan basi,” kata Puspo Wardoyo lagi
Dari situlah Puspo mulai melakukan penelitian sejak 2019. Ia bersama tim pangan yang dipimpin oleh Ir. Sugiri lulusan dari UGM melakukan riset selama lebih dari dua tahun untuk menciptakan makanan siap saji yang mampu bertahan lama tanpa bahan pengawet, namun tetap memiliki tekstur dan rasa seperti masakan fresh. Bahkan teknologi yang ia temukan merupakan teknologi yang pertama diterapkan di Indonesia. “Yang paling sulit itu bagaimana makanan tetap rasa Indonesia, teksturnya tidak berubah, tahan lama, dan bisa langsung dimakan tanpa dipanaskan. Itu tantangan utamanya,” ungkapnya.
Hasilnya, pada tahun 2023 PT HATI berhasil mengembangkan teknologi sterilisasi makanan menggunakan suhu 121 derajat Celsius dengan tekanan tinggi. Makanan dikemas secara vakum sehingga mikroba patogen mati dan produk mampu bertahan hingga 18 bulan. “Kenapa bisa awet? Karena makanan dikemas higienis secara vakum lalu dipanaskan dengan suhu tinggi. Jadi mikroba mati hampir 100 persen dan dari luar juga tidak bisa masuk lagi,” jelas Direktur Utama PT HATI, Ir. Sugiri saat mendampingi Puspo Wardoyo.
(Hong)

















