banner 728x250

Puspo Wardoyo Menjadi Juri Lomba Sambel Tumpang, Pecahkan Rekor MURI

H. Puspo Wardoyo (paling kanan), ketika mecicipi satu persatu sambel tumpang masakan para peserta lomba.

SRAGEN, KONTRASNEW.com –  Dalam acara pembagian masakan khas Sragen, yakni 10.000 Sambel Tumpang yang dibagikan secara gratis, pada  Minggu (15/2/2026) yang bertajuk Festival Sambal Tumpang Nusantara itu, H.Puspo Wardoyo, pengusaha kuliner Wong Solo Group diundang secara khusus untuk menjadi  juri dalam lomba sambel tumpang  yang pesertanya berasal dari berbagai daerah.

Pada kesempatan itu, Puspo Wardoyo menjelaskan, meski sambel tumpang itu dikenal sebagai makanan basah yang cepat basi, tetapi kedepan sambal tumpang Sragen,  harus diproyeksikan lebih modern. “Saya ini juga pencinta masakan sambal tumpang, namun saya merasa paling enak yang ada di Sragen ini” ujar Puspo Wardoyo yang juga pemilik Distinasi Wisata Kalipepe Land itu

Menurutnya, sambal tumpang khas Sragen memiliki karakter unik, karena penggunaan bumbu  tempenya lebih proporsional dibanding daerah lain, rasanya kurang mantap. Namun yang ia beri catatan penting soal daya tahan. “Kami memiliki alat modern yang mampu mengawetkan masakan tahan selama dua tahun” katanya

Dengan demikian, agar sambel tumpang ini bisa disebarluaskansecara nasional, maka bupati Sragen harus memberi tempat tempat khusus nasi masakan nasi sambal tumpang itu di Sragen. “Kalau ini dilakukan saya yakin akan diburu pelanggan kuliner, karena masakan sambal tumpang khas disini rasanya sama dengan Solo, kalau di Boyolali tempe bosoknya banyak” jelasnya

Sementara masakan sambal tumpang di Sragen ini tempe bosoknya sedikit, namun rasanya pas. Meski begitu sambal tumpang bisa diawetkan, sehingga perlu bekerja sama dengan Pabrik kuliner milik Puspo wardoyo yang mampu mengawetkan masakan selama 2 tahun. “Pengawetan masakan yang baik itu, bertujuan untuk menjaga vegetarian dan bisa untuk oleh-oleh” tandasnya.

Untuk itu, Puspo Wardoyo berharap masakan khas ini bisa dilestarikan dan  jangan hanya sekedar untuk memecahkan MURI saja. Jadi, cara dan alat yang digunakan harus mengikuti zaman, sehingga selalu berkembang dengan alat modern, namun tidak mengurangi rasa khas sambal tumpang masakan warisan leluhur.

 

(Hong)