banner 728x250

SPPG Gagaksipat 2, Tetap Menjaga Sterilisasi Menu MBG dan Sesuai Juknis Badan Gizi Nasional

Lokasi SPPG Gagaksipat 2, Ngemplak, Boyolali yang kini sedang disorot LSM Pengembangan Anak Indonesia.

BOYOLALI, KONTRASNEW.com – Kepala SPPG (satuan pelayanan pemenuhan gizi) Gagaksipat 2 Ngemplak,Boyolali , Yuwida Salma Lova menegaskan,  menu yang disajikan untuk MBG (makan bergizi gratis) yang dibagikan diwilayahnya, sudah sesuai dengan Jukniis (petunjuk teknis) Badan Gizi Nasional. “Kami tetap menjaga sterilisasi menu MBG dan sesuai dengan Juknis Badan Gizi Nasional” katanya

Lebih lanjut disampaikan Yuwida,  harga menu untuk balita, KB, TK, hingga siswa SD kelas I–III sebesar Rp 8.000 per porsi, bukan Rp10.000 per porsi. “Untuk harganya itu ada roti Joy isi daging ayam Rp 4.050 per pcs, itu harga reseller, sosis oven isi daging Rp2.500 per pcs, dan pisang Ambon Rp1.450 per pcs” rincinya

Jadi pihaknya tidak memberikan di bawah nilai Rp 8.000 untuk porsi kecil atau di bawah Rp10.000 untuk porsi besar. Sehingga kandungan gizinya, karbohidrat diperoleh dari roti, protein dari isian daging ayam dalam roti dan sosis oven daging ayam, sedangkan pisang Ambon menjadi sumber serat, vitamin dan mineral.

“Untuk energi porsi kecil ada 239,5 kkal, rinciannya protein 8,4 gram, lemak 5,7 gram, karbohidrat 38,1 gram, dan serat 1,5 gram. Yang porsi besar 352,3 kkal energinya, protein 16 gram, lemak 11,2 gram, karbohidrat 48,4 gram, dan serat 1,9 gram,” ujarnya sembari menambahkan, terkait menu susu dan telur, telah dijadwalkan dua kali dalam sepekan, tidak setiap hari dan tidak dirapel.

Untuk bahan baku, ia menyebut SPPG Gagaksipat 2 mencari produk yang telah bersertifikasi halal serta memiliki izin PIRT dan BPOM. Ungkapan itu diutarakan atas adanya keluhan warga Gagaksipat sekaligus Ketua LSM Pengembangan Anak Indonesia, Dewi Ritaningsih yang mengatakan, sekolah di daerahnya menerima menu MBG Ramadan perdana setelah libur satu pekan.

Rita menjelaskan, sekolah menerima paket MBG sekitar pukul 07.00 WIB. “Kami mendapatkan menu roti, sosis, dan pisang. Ini semisal dihitung, roti Rp2.000, sosis Rp2.000, pisang Rp2.000, kan baru Rp6.000, bahkan mungkin harganya kurang dari itu. Paling tidak ya ada susu atau telur,” jelasnya, sehingga disayangkan menu tersebut dinilai belum sesuai dengan anggaran yang tersedia.

Menurutnya, saat Ramadan, menu makanan yang diberikan berupa paket kering, jadi tenaga kerja yang dibutuhkan tidak sebanyak di luar Ramadan, seperti tidak adanya petugas pencuci ompreng dan juru masak. Ia mengusulkan alokasi upah tenaga kerja tersebut dapat dialihkan untuk menambah kualitas menu MBG kering.

 

(Hong )